refleksi diri (2/365)

mungkin harusnya tulisan ini di publish kemarin ya, karena menjadi satu awal perjalanan baru. tapi tak apa, tidak ada kata terlambat bukan? 

2021...
rasanya aku bersyukur tahun kemarin akhirnya berlalu. meskipun aku tahu kalau tahun ini pun berjuang nya belum selesai. 
bagaimana tidak, ia merupakan tahun yg begitu jahat dan kejam kepadaku. tahun yang tidak berpihak padaku. tahun dimana aku sampai harus berkeringat darah demi bisa melewatinya.
dimulai dari aku yg positif covid di awal Januari tahun lalu, lalu mulai lah satu-satu penyakit datang silih berganti tak kenal waktu, membuatku harus bolak-balik rs dan itu sangat melelahkan.
pergi nya ia yang kusebut rumah, kehilangan sahabat, dikecewakan orangtua dan saudara, dan lagi aku gagal menyelesaikan kuliahku tahun ini. sebetulnya masih banyak daftar-daftar yang menyiksa batin, hanya saja aku malas menyebutkan nya karena hal itu hanya membuat hati kembali luka.

bulan lalu tepatnya, tepat sebagai bulan penutup tahun. aku diguncang oleh sesuatu yang sangat hebat, membuatku tak habis pikir betapa dunia ini tidak adil kepadaku. sempat terlintas untuk 'pergi' saja dari bumi, karena aku merasa bahwa semesta benar-benar tak mau berpihak padaku meski kebenaran sudah terpampang nyata. sayang aku tidak punya power saat itu untuk mengungkapkannya. hal ini membuatku menjadi sangat lelah rasanya akan semua hal yg kujalani dari awal hingga hari penghujung tahun. kali itu hati ku benar-benar hampa, rasanya luka yang tiap hari datang mengoyak tanpa ampun itu benar-benar sudah membuat aku akhirnya mati rasa. aku sampai tidak tau, apa saat itu aku baik-baik saja, atau tidak. aku tidak dapat merasakan perasaan apa-apa.
tiba-tiba aku ingat, aku sepertinya pernah merasakan perasaan seperti ini. ah iya, 2019. ini adalah perasaan kosong yang sama.
aku langsung buru-buru menyelamatkan diriku, aku tidak mau ia kembali lagi terkurung di lembah gelap itu, terombang-ambing dan akhirnya menghilang dan hanya berisi tubuh kosong tanpa aku disana. aku memilih pergi. kembali ke tempat dimana aku menemukan nyaman. iya, dia alam, dingin dan tenang. meski saat itu aku tidak pergi sendiri akhirnya, namun karena perjalanan itu, aku akhirnya berhasil menyelamatkan aku. dibantu pula oleh sahabatku yang memberikan ku bantuan ke psikolog online selama 3 hari (terimakasih dwi asrita, i love you)

dan ini lah aku, aku yang telah selamat dari maut. sedang tersenyum menulis tulisan ini. mari kujelaskan bahwa 2021 ternyata tidak seburuk itu.
sekali lagi, tahun lalu ternyata memberi pelajaran berharga untukku.
ia mengajarkanku untuk menerima, melepaskan, dan meikhlaskan. ia juga mengajarkanku untuk lagi-lagi tidak berharap pada satu manusia manapun, mengajarkanku untuk bertanggung jawab pada diriku sendiri. mengajariku menahan rasa, mana yang harus kukeluarkan, mana yang harus jadi milikku saja seorang, tak perlu tiap rasa kubagi pada orang yang belum tentu mau terus menetap. mengajariku bersyukur karena setiap rasa sakit yang kuterimapun, Allah masih memberikan bantuan tanpa aku sadari. mengajariku sekali lagi untuk berserah, mengembalikan semuanya kepadaNya dan tidak memaksakan apa yang aku pikir yang terbaik, karena sesungguhnya aku sendiripun tidak tau mana yang sebetulnya terbaik untuk hidupku. mengajariku untuk tidak lagi ceroboh dalam bertindak dan mengambil keputusan. mengajariku untuk kembali mencintai diriku sendiri, mengutamakan diriku dahulu jika ingin menyelamatkan oranglain. mengajariku untuk menghargai tiap nafas yang masih bisa kuhembuskan setiap detiknya.
ah kan, begitu banyak ternyata pelajaran yang kudapatkan. iya kan, 2021 ternyata tidak seburuk itu. 

pagi ini adalah hari kedua si tahun baru. langit hujan sejak subuh tadi. dingin, cuaca kesukaanku.
kusambut tahun ini dengan perasaan siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. karena aku sudah dimodalin bahan-bahan ujian dari tahun lalu, jadi rasanya aku siap menerima tantangan tahun ini. tidak takut, karena kali ini aku sudah bersama dengan diriku. kali ini pondasiku jauh lebih kokoh dari tahun kemarin, meski secara fisik mungkin aku tak se-sehat tahun lalu namun mentalku sudah kembali membangun temboknya meskipun temboknya belum sempurna karena sedang proses renovasi.

jika ditanya, jadi apa yang aku inginkan di tahun 2022?
hmmm apa ya...
bahagia dan senang secukupnya, meminimalisir perasaan sedih dan marah, menjadi pribadi yang lebiiiiiih baik lagi, sehat fisik dan mental, kembali tersenyum, tertawa lepas dan menjadi utari yang memberi dampak positif untuk sekitar, nafsu makan balik lagi biar gerd ga kambuh wkwk, ngga sesak, ga senep, ga gemetaran lagi dan ah menyelesaikan kuliah sebelum bulan 6, mendapatkan pekerjaan, dan jika Allah berikan jodohku di tahun ini, aku ingin sekali menikah tahun ini dan membangun rumah yang selama ini aku pikir sudah punya. wkwkwk ternyata masih banyak juga mauku. semoga ya, semoga tiap-tiap ingin yang disemogakan terkabul tahun ini. meski aku tau, perjalanan didepan pasti ga akan mudah, tapi aku siap, sudah benar-benar siap. aku tidak takut lagi.


2022, here we go!

Comments

Popular Posts