hi, lama sekali aku sudah tak kemari ya. blog ini sering sekali terlupakan, padahal menulis adalah tempat ternyaman untukku mengekspresikan segala rasa. menulis mampu membuatku merasa hidup diantara gelap nya hari-hariku, benar-benar sudah lama sekali tak menulis.

setelah kulihat, begitu banyak draft tulisan yang tak jua ku publish karena tulisan nya yang tak pernah selesai atau memang aku sendiri yang tak ingin melanjutkan ceritanya. bahkan cerita soal Aku dan Covid-19 pt.selanjutnya saja tak selesai juga kulanjutkan. bukannya aku tak mau melanjutnya, hanya saja belakangan memoriku mulai rusak, gampang sekali melupakan, bahkan suatu kejadian yang baru terjadi saja aku bisa gampang lupa, entah mengapa. aku bahkan sudah lupa setelah hari itu apalagi yang terjadi. iya aku ingat garis besarnya saja, sudah tak ingat secara detail.

subuh itu tiba-tiba aku terbangun, bukan hanya karena ingin menunaikan sholat, tapi tiba-tiba aku tak mampu menarik nafas, rasanya tidak ada udara sama sekali saat itu. keringat dingin mulai bercucuran, akhirnya aku sadar, aku kehabisan oksigen. dengan sedikit tenaga yang masih ku punya, kutekan bel untuk memanggil perawat ke ruangan ku. pada waktu itu yang didalam batinku hanya memikirkan 2 hal, merindukan seseorang dan berpikir 'apa aku akan mati?', perawat pun datang, ia melihatku sudah menangis sambil menepuk-nepuk dadaku. perawat itu langsung menaikkan tempat tidurku agar posisi ku jadi setengah duduk. ia memasangkan alat saturasi oksigen sambil mengarahkanku untuk mengikuti instruksi nya. saat itu pandanganku mulai buram, yang bisa kulakukan hanya menangis sambil sesekali menyebut nama ALLAH. yang masih kuingat, perawat itu memberiku obat lalu memanggil rekannya untuk membantu nya memasangkan oksigen untukku. lalu setelah itu hampir seharian penuh selang oksigen itu terpasang pada hidungku sampai ia yang kurindukan itu menghubungi ku dan aku kembali baik-baik saja pada saat itu.

sebetulnya aku mampir kemari bukan bertujuan untuk melanjutkan cerita barusan hehe, nakal sekali aku ya. memberi harapan palsu pada pembaca tulisan ini. ah ntahlah, apa benar masih ada yang mau membaca tulisan ku atau tidak. atau hanya mampir karena K E P O akan hidupku saja, bukan karena menanti tulisanku.

soal mengekspresikan rasa, belakangan sebetulnya aku merasakan kembali lagi arti sebuah kata 'hidup', meski memang tak mulus, ada saja perkara nya, namun aku kembali merasa hidup. ada yang hadir, memberi nyaman, meneduhkan jiwa, dan saat itu begitu merasa dicinta dan kucinta. namun sepertinya salahku, nyaman yang kudapat membuatku mengubahnya menjadi sebuah penopang. aku lupa kalau aku ini berat, mana ia sanggup menopangku. apalagi yang kulewati dengannya pun tak mudah, sering ribut, sering tak sepaham, bahkan suka saling tolak. namun aku sering sekali menggunakannya sebagai penopangku bila si gelap datang menghampiri hariku. perlahan tapi pasti, ia mulai meninggalkanku. aku yang selalu girang bila berada didekatnya, selalu berjalan dengan sedikit berjingkrak sadar kalau ia mulai berjalan mundur, tak lagi berjalan disampingku. aku terhenti. melihat ke kanan ke kiri, mencari-cari dimana dia, ternyata ia sudah jauuuuh dibelakang. tak ia melambaikan tangan perpisahan, hanya memang ia memilih membiarkanku berjalan sendiri saja. selama ini ia dikenal bebas, adanya aku menjadi jerat untuk ia tak bisa lagi bergerak leluasa. ia tak salah, aku yang salah. cintaku kembali menjadi sebuah pengharapan. lagi-lagi aku lupa akan apa yang pernah dulu terjadi padaku, aku lupa bila semakin bergantung dan mengharap maka semua itu tak akan pernah terbalas. betapa egois nya aku. atau bila boleh membela diri, ya maap namanya aku pelupa he he he. namun tak semudah itu alasan bisa kugunakan kan? hahaha.

bila ditanya sekarang, bagaimana keadaanku? baik, baik-baik saja. saat ini, gatau besok, gatau nanti, gatau semenit lagi hehe. tak menepis, akupun juga merasa terseok kembali kok. kadang merasa hidup, kadang pula hampa bagai botol kosong. bukannya memang tak ada yang benar-benar siap kehilangan kan? ntah itu hilang atau masih di bumi, pada nyata nya tak ada yang suka kehilangan. sialnya adalah rasa ini datang disaat dunia benar-benar sedang tak baik padaku. dihujam dengan masalah bertubi-tubi membuatku ingin sekali mengatakan kalau 'boleh gak pergi nya saat aku siap?' atau 'boleh gak pergi nya saat aku udah baik-baik aja'. kenyataan pahit satu lagi yang perlu kita telan adalah bahwa tak ada situasi yang benar-benar tepat. kapan aku siap, kapan keadaan baik-baik aja, ga ada yang pernah tau kan? bisa jadi saat ini memang waktu yang paling tepat. tergantung kita dan waktu yang ngelewatinnya. 

langkahku saat ini terhenti, tak tahu mau jalan lurus, menoleh kebelakang, atau memilih belok kanan. belum, aku belum mendapatkan keputusan apa-apa. aku masih memeluk dengan erat rasa sakit yang begitu besar saat ini menghujam ulu hatiku. membenci? tidak. tak ia kubenci, ia kucinta meski ia telah melanjutkan langkah barunya dibelakangku. walau sejujurnya ingin sekali aku membenci nya.

.................................


sudah ya, tulisan nya lain kali lagi kulanjutkan. tak sadar sudah basah pelupuk mataku. semoga lain kali aku mampu menceritakan soal perjalanan ku yang satu ini dengan kepala tegak. tanpa pula air mata. bila kamu tak sengaja membaca tulisanku yang satu ini, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, pernah bersedia menjadi alasanku untuk kembali merasakan hidup.

terimakasih ya, 

teman.

<3


01.59

8/8/21


Comments

Popular Posts