mari ku lanjutkan cerita yang sempat terputus....
pagi pun tiba, singkat cerita akhirnya seisi rumah pun tahu kalau aku positif, dengan respon amarah dan tangisan pada saat itu yang aku terima. aku rasa wajar, karena ga ada yang benar-benar siap pada saat itu. setelah obrolan panjang dan sedikit desakanku, akhirnya aku dibawa ke rumah sakit. yang terpikirkan saat itu adalah salah satu cara aku memutus rantai penyebaran ini adalah dengan aku tidak dirumah, selain itu juga karena aku sudah lumayan sering merasakan sesak napas, aku rasa ada yang sudah ngga beres pasti didalam tubuhku dan aku ngga mau menunda lagi.
ambulan pun datang, akupun dibawa ke rumah sakit. kulihat ayah mengepalkan tangannya tanda memberikan semangat padaku sebelum akhirnya ambulan melaju. di mobil, aku hanya menangis, ia terus saja mengalir meski aku cukup keras menguatkan diri saat itu. hidupku benar-benar harus seorang diri dan terpisah. 'utari bisa, utari bisa' selalu itu ucap ku dalam hati sambil menyebut nama-Nya.
sesampai di rumah sakit, aku langsung dibawa ke UGD khusus bagian covid, dokter langsung mengarahkan ku untuk melakukan cek lengkap, mulai dari pengambilan darah, CT-Scan bagian thorax, dan Swab PCR (lagi). hasilnya keluar, ternyata paru-paru kanan dan kiriku sudah diserang si virus sialan itu, paru-paruku sudah terserang bronchopneumonia, padahal sebelumnya aku tidak punya penyakit paru-paru sama sekali. mungkin teman-teman ataupun siapa yang membaca tulisanku ini bisa cari tau sendiri apa itu bronchopneumonia, yang sedikit bisa kujelaskan dari pemahamanku adalah paru-paruku sudah infeksi dan terjadi peradangan, ditandai dengan munculnya flek-flek putih yang dimana kondisi seperti ini bisa menghambat oksigen masuk ke paru-paru karena penyempitan saluran pernapasan, cmiiw.
demikianpun hasil darah, jumlah leukositku saat itu sangat tinggi. aku lupa jumlah tepatnya berapa yang jelas berada diangka batas normal. ini menerangkan bahwa tubuhku sedang mengalami infeksi yang sangat parah.
(kondisi paru-paru pada ct-scan pertama)
saat itu dokter menyampaikan dengan kondisi yang seperti ini, aku memang harus dirawat dirumah sakit. alhamdulillah saat itu ada salah satu anggota ayah yang setia membantuku mengurus administrasi ini itu, beliau yang kesana kemari, aku sungguh sangat terbantu. kuucapkan terimakasih banyak untuk Om Hermanto, doaku selalu kupanjatkan untuknya karena beliau adalah satu dari sekian banyak yang berjasa pada saat aku berjuang waktu itu. semoga Allah beri ia kesehatan selalu, aamiin.
karena saat itu kondisi ruangan yang masih penuh, aku dibaringkan diruang UGD. perawat sudah mulai memasang selang infus dan alat saturasi oksigen pada tanganku. kurang lebih 2 atau 3 jam aku di ruang UGD sampai akhirnya ada satu kamar yang tersedia untukku. akhirnya akupun dibawa menggunakan kursi roda saat itu padahal aku mampu berjalan sebenarnya, tapi aku hanya diam saja, tak berdaya rasanya.
baru beberapa jam aku dikamar, obat mulai dimasukkan ke dalam tubuhku melalui injeksi dan oral. beberapa obat yang masuk terasa sungguh menyiksa, kupikir aku saja yang berlebihan, ternyata salah satu pasien di sebrangku pun sedang merintih kesakitan karena obat itu. ah, di kamar isolasi itu, kami berempat. namun karena aku anak baru, tak ada satupun yang berbicara padaku, untungnya tempat tidurku persis disamping jendela, jadi aku bisa memandang-mandang rumah-rumah dan sebuah jalan gang kecil melalui jendela ku.
obat-obatan tak henti masuk ke tubuhku, subuh-subuh suster udah datang ke ruanganku memberikan obat melalui infus, sebelum sarapan ada obat yang harus ku minum, sehabis makan apalagi, sebelum datang tengah hari ada lagi obat yang dimasukkan melalui injeksi, siang hari pun begitu, bahkan sampai sebelum aku tidurpun, suster tak absen memberikan ku obat dan vitamin sembari mengecek suhu, tekanan darah, kadar gula darah, dan saturasi oksigen ku, 24/7.
keadaanku memang sedikit buruk karena aku penderita diabetes type 2, sehingga pada saat itu ada dua dokter yang menanganiku yaitu dokter spesialis paru-paru dan spesialis penyakit dalam. gula darahku harus bisa dibawah 180 mg/dL pada saat itu agar semua obat dapat berjalan baik-baik saja.
sejauh ini semuanya seperti berjalan baik-baik saja, namun tepat di hari ketiga aku dirawat, sesuatu terjadi pada diriku......
Comments
Post a Comment