Utari dan Covid-19 (pt.1)
sebelumnya hi, assalamualaikum😄
lama sekali tak bersua ya, tangan ini begitu malas untuk menulis belakangan. namun sebenarnya sedikit pembelaan diri kalau aku mulai menulis beberapa bait kata di instagram kok, meski carut marut, meski menuai kontroversi pada para pembaca HAHAHA. namun aku coba untuk tetap menulis, meski tergantung suasana hati.
COVID-19, bicara soal yang satu ini rasa-rasanya ada begitu banyak cerita yang ingin sekali aku tuangkan. dari awal ia muncul ke permukaan sampai akhirnya ia tak tahu diri malah menyerang tubuhku. iya, aku positif covid-19, terhitung 18 Januari 2021, begitu hasil Swab PCR pertamaku keluar hari itu. dan keesokan hari nya, setelah diskusi, aku akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
aku akan ceritakan kronologi nya disini, semampu ingatanku ya.
waktu itu, 9 Januari 2021, aku sedang berada di salah satu rumah sakit di kotaku, aku memang sebulan sekali pasti kesana, karena aku harus mengambil obat bulanan untuk mamaku yang juga seorang pejuang. setelah urus berkas ini itu dan mengantri, tiba-tiba badanku terasa lemas. seperti orang yang mau diserang demam. aku pikir waktu itu 'ah paling ini karena tadi terkena hujan', karena saat diperjalanan, hujan sempat mengguyurku, dan memang aku tipe anak yang gampang diserang demam atau sakit kepala bila sudah terkena hujan meski aku sangat suka dengan hujan, jadi saat itu aku mengganggap ya begitu, paling hanya karena tadi terkena hujan.
ternyata, panasnya malah tambah naik hari itu. aku sempat beberapa kali menggigil, sampai akhirnya setelah suhu ku di cek, seingatku waktu itu panasku 38,7 derajat celcius. yaaa karena saat itu aku demam sampai 3 hari, aku memutuskan dengan inisiatif meng-isolasi diri dikamar karena aku sadar dirumah ada mama yang rentan, meskipun aku masih mengerjakan pekerjaan rumah waktu itu, tapi sebisa mungkin aku memakai masker dan lebih banyak dikamar aja.
di hari keempat, sebenarnya panasku sudah mulai turun, badan ku pun sepertinya sudah baik-baik saja. tapi kok tiba-tiba aku malah flu dan batuk. waktu itu rasanya tenggorokanku gatal seperti ada dahak yang banyak sekali, tapi gak mampu untuk aku keluarkan. aku juga pilek parah waktu itu, tapi aku tetap berpikir 'ah karena kena hujan kemarin ah ini'.
sampai waktu itu hari kelima seingatku, aku mendapat kabar kalau salah satu temanku sedang dirawat di rumah sakit karena positif covid. saat itu hancur hatiku karena saat aku tanya bagaimana gejala yang ia rasakan, semuanya hampir persis sama seperti yang saat itu aku rasakan. walaupun aku masih mencoba menepis kalau aku tidak apa-apa, tapi pada saat itu aku sudah mulai curiga pada diriku, 'apa iya aku?' batinku setiap saat. sampai akhirnya temanku itu memintaku untuk mencoba indera penciuman dan perasaku, akupun melangkah mengambil salah satu parfumku dan pada saat itu aku tidak mampu mencium apapun. akhirnya kucoba semua wewangian yang ada dikamarku, namun memang tak satupun mampu kucium aroma nya. tanpa sadar saat itu air mataku turun, apa iya ya, apa iya ya selalu aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. sampai akhirnya aku juga sadar kalau dari kemarin aku pun tak mampu merasakan nikmatnya masakan yang dibuat mamaku. namun lagi-lagi aku tetap berusaha menepis rasa khawatirku dengan menganggap 'yaa namanya juga pilek, ya gak bisa cium bau-lah. yaa namanya lagi ga enak badan, ya lidah pahit lah jadi ga enak makan' lagi-lagi hatiku berusaha menguatkan dengan kata-kata seperti itu dari dalam diri.
sampai di hari keenam, batuk dan pilek ku tak kunjung reda, malah pada hari itu bertambah lagi gejalanya, aku mulai mencret dan mulai merasakan sesak napas meski tempo nya masih sekali-sekali tapi aku mulai merasakan sesak dan nyeri pada dada sebelah kanan ku. tapi karena aku tidak mau membuat orang-orang khawatir, aku hanya menahan rasa sakit itu sendiri dikamar.
tepat di hari ketujuh, aku memutuskan untuk daftar Swab Test di salah satu rumah sakit yang mengadakan Swab Test gratis. meskipun jujur saat itu aku takut sekali, bagaimana kalau hasilnya tak sesuai harap, bagaimana kalau memang ternyata aku sedang sakit yang paling ditakuti banyak orang, bagaimana kalau ternyata aku sudah menularkan ke orang-orang terdekatku. begitu banyak pertanyaan yang bergemuruh saat itu, tapi pada akhirnya aku tetap memutuskan untuk mendaftarkan diriku. aku rasa aku harus melakukannya, karena ini bukan hanya soal aku, tapi soal orang-orang yang ada disekelilingku.
3 hari kemudian keluar jadwal Swab-ku, akhirnya aku pergi ke rumah sakit ditemani matahari. tangan ku dingin sekali waktu itu, dan aku sempat menangis karena saat itu rasanya benar-benar takut. tapi karena dikuatkan, akhirnya kuhapus air mataku, dan akupun melangkah ke registrasi ulang.
namaku pun dipanggil, aku pun maju kedepan, suster mulai memasukkan alatnya ke hidung dan tenggorokanku. didalam hati, aku hanya menyebut nama sang Illahi tanpa henti. saat itu aku tak merasakan sakit apa-apa, hanya merasakan ada sesuatu yang aneh pada tenggorokanku, hanya itu.
entah mengapa hari itu rasanya hatiku ringan sekali, maksudnya hatiku seperti berbisik kalau 'utari, kau sakit nih' 'utari, gapapa ya, kuat!'. tapi aku terus tak mau mendengar dan masih berusaha membesarkan hati kalau aku enggak apa-apa.
malam hari nya...
aku menerima pesan dari rumah sakit dimana aku melakukan pemeriksaan itu, aku enggak berani membuka nya pada saat itu. tapi pada akhirnya aku harus menerima kenyataan, aku positif covid-19. air mataku tak terbendung lagi malam itu, aku menangis sejadi-jadinya meski tak besuara karena aku takut didengar orang-orang dirumah. malam itu kuputuskan untuk tidak langsung memberitahu ayah dan mama terlebih dahulu karena rasanya aku ingin memberi mereka kesempatan untuk bisa tidur nyenyak sebelum mendengar kabar buruk dariku.

Comments
Post a Comment