𝚊𝚗𝚊𝚕𝚒𝚜𝚒𝚜 𝚛𝚒𝚜𝚒𝚔𝚘

mungkin, beberapa teman-teman pernah membaca tulisan blog lama saya tentang kesalahan terbesar saya memilih ‘pertanian’ atau mungkin lebih tepatnya lagi ‘agribisnis’ sebagai jurusan saya sewaktu S1 dulu. dan benar, saya memang menyesal. ya bahkan sampai hari ini sebenarnya (sedikit)  wkwk.
lalu kenapa memilih melanjutkan study dengan jurusan yang sama?

sedikit mundur 15 tahun lalu, ketika orangtua saya ditugaskan di Tapanuli Selatan, desa Maragordong, iya Maragordong nama kampungnya. jadi setiap kali libur sekolah, atau bulan Ramadhan kami pasti kesana supaya bisa sahur dan berbuka bareng-bareng ber-5. setiap sore biar waktu tak terasa, ayah selalu mengajak kami jalan-jalan mengitari bukit dengan motor dinasnya. sampai pada disatu tempat, semua pohon-pohon pinus disana dibakar dan ditebangi, lalu aku bertanya kepada ayahku ‘kok pohon nya digituin, kasian’ trus ayah jawab ‘iya krn mau ditanam sayur-sayuran sama petani’ lalu aku ingat betul pertanyaanku selanjutnya ‘jadi kalau udah besar nanti harus jadi apa biar bisa larang orang supaya ngga bakar pohon nya’ entah pada saat itu ayah gak tau mau jawab apa atau mungkin hanya itu yg dibenak ayah, tapi dengan lantang ayah menjawab ‘INSINYUR PERTANIAN, NAK’ sejak saat itu, kalau ditanya cita-citaku mau jadi apa, aku akan menjawab ‘JADI INSINYUR PERTANIAN’
that’s the reason why i choose PERTANIAN dulu wkwk.

saat memilih jurusan pun, sebenarnya kalau dipikir-pikir saya ini salah pilih. notabene saya anak IPA, sangat menyukai Biologi saat dibangku sekolah dulu, karena memang sa...iyyaa eh, formal kali ya. aku ajalah ya.
oke lanjut hehe, ya karena memang aku sudah mempersiapkan diriku untuk kuliah di fakultas Pertanian waktu itu. tapi karena kegagalanku masuk PTN waktu itu membuatku frustasi dan sama sekali ga punya planning mau kuliah swasta dimana, dan memang ga mau kuliah di swasta juga karena standar dari keluargaku yang mengharuskanku kuliah di negeri waktu itu. dan ketika ayah menyuruhku mendaftar ke salah satu swasta di kotaku, sebut saja dia UMSU, aku bener-bener udah ogah-ogahan ujiannya dan asal milih aja agribisnis sebagai jurusanku karena memang waktu itu aku ngga tau kalau agribisnis itu sosial ekonomi nya pertanian. ancuuuur dah itu wkwkwk, belajar ekonomi, belajar akuntansi, ingat betul aku sampe muntah yang bener-bener muntah ngerjain tugas akuntansi waktu di semester awal karena emang ngga punya basic sama sekali. mampus mampus wkwkwk, tapi karena demi pembuktian diri ke orangtua eaaaak dengan bangga kutamatkan kuliahku dengan kurun waktu hanya 3,5 tahun dengan ipk 3,46 yg udah paten kalo dikampung kampung lah haha. kenapa aku ketawa? ya karena inilah titik dimana aku ngemaki diriku sendiri haha (ketawalah sekali lagi)
entah tamat cepat itu beruntung atau enggak, tapi setelah tamat sebenarnya aku ingin sekali waktu itu langsung lanjut kuliah. sudah ambil kelas conversation, TOEFL bahkan sampai berangkat ke Jakarta demi mengambil kelas IELTS di IDP, karena memang aku ingin sekali melanjutkan study ku karena rasanya aku belum puas sama apa yang kucapai, 1 mimpiku belum terwujud rasanya, kuliah di negeri, minimal IPB, biar bisa bikin orangtua bangga. tapi karena waktu itu aku sudah sadar tidak ingin merepotkan orangtua, makanya aku sibuk kursus demi beasiswa LPDP waktu itu.
balik lagi, entah tamat cepat itu beruntung atau enggak, orangtuaku saat itu malah mendesakku untuk balik ke Medan dan mencari kerja disini, pupus sudah harapanku waktu itu. tapi demi sembah baktiku pada orangtua, walaupun sempat egois dan keras kepala tapi pada akhirnya aku menurut dan memilih pulang. dan dunia menyebalkan itu pun datang, dan penyesalanku sebagai Sarjana Pertanian pun singgah.
susaaaaaah, susah cari kerja. jurusanku menurutku itu jurusan siluman, coba deh pikir-pikir dibilang anak pertanian, coba tanya nama latin buah kelengkeng deh mana kutau wkwkwk, dibilang anak ekonomi, ga pantes wkwkwk. setahun lebih kesana kemari ngelamar kerja, hasilnya nihil. buka lowongan di bank, syarat berpenampilan menarik membuatku balik badan mundur teratur, buka lowongan yang aku banget, jadi anak lapangan, asisten kebun, eh syaratnya laki-laki, emamg kampretttt betul rasanya. saat ada beberapa instansi membuka lowongan bagian administrasi, rasanya bukan aku kali, walaupun pernah juga pada akhirnya aku diterima tapi 2 hari kerja aku minggat karena mereka memintaku membuka jilbabku, bukan sok alim, tapi untuk menjadi seorang Utari yang seperti sekarang rasanya aku tidak bisa. daaaan jadilah aku pengangguran, kerjaanku ya dirumah mutihin badan wkwkwk becanda, ya dibilang pengangguran ya ngga pengangguran kali lah, aku akhirnya coba-coba jualan online yaaa yang Alhamdulillah bisa beli jajan beli skinker pake uang sendiri cihuuuy...
tapi gimanapun, dimata orang-orang sekitar tetap aja kan, bekerja itu yang berangkat pagi pulang petang, pake kemeja rapi, duit ngalir dengan jumlah yang sama tiap bulan nya, itulah yang dinamakan B E K E R J A. ya memang demikian kan adanya, stigma itu ga akan bisa kita patahkan karena sudah mendarah daging wkwk. sampailah aku di masa orangtua yang selalu menyindir-nyindir soal bekerja dan bekerja, sampai rasanya aku mau mati aja, nah ini juga masa dimana aku juga sedang berbenah hati waktu itu, jadi ditambah dengan keriwehan rumah dan soal cinta-cinta bodoh taik kucing itu, aku jadi anak yang temperamental, bawaannya marah-marah dan menganggap semua yang didunia ini salah dan enggak peduli samaku, dan rasa menyesal aku akan jurusan semakin tinggi dan selalu mengutuk-ngutuk diriku sendiri. BEGOK TOLOL BODOH itu aja yang selalu keluar dari hatiku setiap ngeliat ijazahku dilemari, gak guna, ga ada untungnya, itu aja yang kuumpat-umpat dalam hati.

aku lupa bagaimana awalnya tapi tiba-tiba mama memanggilku ke kamarnya dan memberikan ku kesempatan untuk melanjutkan studyku, pada akhirnya. dengan syarat harus negeri, karena keterbatasan biaya mengingat adikku si tengah baru saja masuk kuliah dan adikku si kecil baru masuk SMA, kalau tidak lulus aku harus nurut apapun yang akan orangtuaku perintahkan dan tidak boleh menolak, termasuk bekerja ditempat yang aku tidak suka sama sekali. kusanggupi permintaan mamaku, kerjaanku waktu itu belajar belajar belajar karena dari awal aku memang sangat ingin kuliah lagi kan, maka aku gak akan membuang kesempatan itu.
sampai pada diwaktu pendaftaran, saat memilih jurusan, sebenarnya aku sudah memilih ekonomi waktu itu, tapi aku mendengar dari salah satu kerabat kalau sekarang susah juga kalau ijazah S2 nya nanti tidak satu ilmu terapan dengan ijazah S1 nya, dan dengan beraaaaat hati kupilihlah lagi AGRIBISNIS:) entah benar atau enggak memang akan susah nanti nya, tapi seenggaknya aku memilih untuk tidak menyusahkan diriku lagi jadi aku pikir, sudah terlanjur basah, kuyup aja sekalian deh. dan dengan mengucapkan Bismillah lagi lagi kupilihlah jurusan itu, iya dia, si Agribisnis itu. lalu bagaimana kelanjutannya?
ya disinilah aku sekarang, sedang menulis blog ini sambil membalas chat-chat dosen dan teman-teman di grup kelas MAG iya MAG, Magister Agribisnis cieeee...

mimpiku terkabul? bisa dibilang demikian. jadi anak pertanian, sedang lanjut study, bahagia pastinya.
tapi apakah jalan yang kuambil sekarang dengan segala hal panjang yang sudah kulewati akan menimbulkan masalah lagi? apa aku siap dengan resiko nya?
jawabanku...............
ada yang bisa menebaknya?☻






21/1/20
utari?


Comments

Popular Posts